Rabu, 17 Oktober 2012

Akeelah


Data Buku 
Judul               : Akeelah
Judul Asli        : Akeelah And Bee
Penulis             : James W. Ellison; didasarkan naskah film Doug Atchiuson
Penerjemah      : Sapardi Djoko Damono
Pengantar        : Sonya Sondakh
Penerbit           : Yayasan Obor Indonesia
Tahun              : 2007
Tebal               : 207 halaman
ISBN               : 978-979-461-642-0
                       
            Apa jadinya kalau anak-anak sekolah dasar (SD) berada dalam lingkungan yang kurang menguntungkan untuk mengembangkan bakatnya ? Bagaimana jadinya anak-anak dalam lingkungan sekolah yang kamar kecil dan mandinya tidak berpintu, minim fasilitas ? Bagaimana jadinya perkembangan anak-anak jika lingkungannya kumuh, tidak peduli satu sama lain, serta sebagian besar anak-anaknya suka buat gaduh dan kekacauan ? Atau bagaimana anak bisa berkembang dengan baik jika orang tuanya tidak memperhatikan anak-anaknya dan harus sibuk bekerja keras karena himpitan ekonomi dan kakak-kakaknya punya urusan masing-masing sehingga tidak peduli ? Atau bagaimana perkembangan anak jika mengetahui ayahnya yang sangat pintar dan peduli pada si anak justru tertembak di jalanan setelah membeli rokok ? Atau bagaimana nasib anak bila lingkungannya, tetangga-tetangganya atau teman-teman kakaknya senang mabuk bahkan sering terlibat narkoba ?
            Banyak orang bisa memastikan bahwa lingkungan seperti itu tidak cocok dengan perkembangan anak-anak. Anak-anak dalam lingkungan seperti itu, akan ikut 'pandangan' dalam pesimisme bahkan apatisme lingkungan. Kasarnya, anak-anak hampir bisa dipastikan akan menjadi brengsek juga.
            Bisa jadi. Akan tetapi, jawabannya bisa tidak selalu suram. Kecerahan bisa didapat dari sahabat yang tulus atau kenangan terhadap ayah atau teladan saudara. Pendampingan guru atau pembimbing sangat dibutuhkan demi perkembangan si kecil. Sebab, bagaimanapun keteguhan dan kepercayan diri yang tangguh dari seorang anak-anak atau bahkan seorang dewasa pun, ia memerlukan peneguhan.

Kata
            Namun, bila peneguhan dan dukungan itu tidak selalu hadir dan yang hadir selalu lingkungan dan pengaruh jelek yang menteror si anak, harapan apa lagi yang bisa membawa kecerahan dan keceriaan ? Masih ada. Ini bukan jalan buntu. Ada jalan, yaitu keajaiban ! Dan, keajaiban itu terletak pada "kata". "Kata" di tangan seorang anak berumur sebelas tahun, Akeelah Anderson.
            Buku karya James W. Ellison ini mengesankan. Ia mengolah kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, justru menjadi 'sarana' atau rahmat. Dan akhirnya, yang terjadi malah kebalikannya. Dunia diubah. Keputusasaan melumer berhadapan dengan keteguhan seorang gadis kecil. Dunia keterputusasaan diserbu dan diubah menjadi dunia yang berpengharapan.
            Seorang pengedar narkoba yang tidak disukai Akeelah karena berpengaruh buruk terhadap kakaknya Terrence, berubah hanya dengan menulis puisi. Keangkuhan Dylan karena memang pintar dan digembleng dengan keras oleh ayahnya, mencair di depan Akeelah hanya dengan kesengajaan untuk salah mengeja kata 'xanthosis' dengan 'z-a-n-t-h-o-s-i-s'. Padahal Akeelah tahu hal itu bisa salah dan dirinya bisa tidak mendapat juara dan pulang dengan tangan kosong.
            Di samping narasinya yang menarik, bentuk novel yang didasarkan pada naskah film Doug Atchison ini sungguh mengena. Biasanya suatu novel yang menarik dan dibaca banyak orang, diangkat menjadi film. Film-film petualangan Harry Potter didasarkan pada novel-novel kisah Harry Potter. Tidak jarang pula dari film-film itu dibuat suatu game untuk Playstation, dan sebagainya.
            Novel "Akeelah" ini justru membalikkan kebiasaan atau logika di atas. Dari film ke novel. Dari citra, gambar yang ditangkap panca indera ke simbol-simbol tulisan. Padahal proses pembuatan film itu sendiri sangat rumit dari kesan atau kisah dunia nyata atau novel diubah menjadi simbol atau tulisan atau naskah. Dan dari naskah itu, dibuat visualisasinya berupa gambar, citra. Menariknya, Novel 'Akeelah' mengembalikan lagi dari hasil visualisasi itu menjadi bentuk tulisan. Dan, tentu tulisan ini ditangkap oleh intelek dari pada pancaindera. Kiranya hal ini tepat karena sesuai dengan isinya yang menekankan kekuatan bahasa, khususnya kata dan karakter. Jadi, apa yang mau dituju buku ini bukan sekedar kesan-kesan yang timbul dari cerita yang bagus, tetapi juga memberi rangsangan intelek pada pentingnya kekuatan "kata" itu sendiri.
            Kekuatan "kata" untuk mengubah dunia itu ditunjukkan tokoh Akeelah dalam perjalanan jatuh bangun mengikuti kejuaraan bergengsi 'Scripps National Spelling Bee" atau lomba mengeja kata-kata. Lomba itu berjenjang dari tingkat sekolah, regional sampai tingkat nasional.

Pesaing

            Gadis berkulit hitam ini yang baru berusia sebelas tahun bukan hanya berhadapan dengan pesaing-pesaingnya di atasnya, tetapi ia berhadapan dengan budaya, sekolah keluarga, dan terutama dengan ketakutannya sendiri. Banyak faktor yang membesarkan ketakutannya dan banyak faktor pula jalan untuk mengatasinya.
            Dengan bimbingan Dr. Larabee, Akeelah berani menghadapi ketakutannya sendiri. Kebiasaan mengeja kata dengan tepukan tangan di pahanya, dibantu dengan lompatan tali milik puterinya, Denise. Yang menarik justru keberanian Akeelah menghadapi ketakutannya sendiri, membuat terbalik Larabee yang sebenarnya menghindari ketakutannya sendiri setelah meninggalnya Denise.
            Banyak hal dari novel ini membuat pembacanya bukan hanya terkesan, tetapi terkaget-kaget. Buku ini, menurut pengantarnya, Sonya Sondakh, pantas menjadi bacaan wajib bagi anak-anak Indonesia karena masih kurangnya bacaan-bacaan yang baik dan inspiratif. Novel ini baik karena mengusung nilai-nilai luhur kesetaraan, keluarga, dan persahabatan.
            Bagi orang dewasa pun, sebenarnya novel ini sangat berguna, apa lagi untuk orang tua, pendidik, atau calon pendidik. Selamat membaca dan dibuat tercengang-cengang.

Daniel Setyo Wibowo

Kenapa Kau Tidak Pulang Ke rumah ?


Data Buku


Judul               : Lepas Dari Belenggu Narkotika (Riwayat Hidup B.J. Thomas, Penyenyi Pop)
Judul Asli        : Home Where I Belong
Penulis            : B.J. Thomas dan Jerry B. Jenkins
Alih Bahasa     : Dra. Iesje Soemantri
Prakata           : Jerry B. Jenkins
Penerbit           : PT BPK Gunung Mulia
Tahun              : 1986 (cetakan pertama)
Tebal               : iii  +  137 halaman
ISBN               : 979-415-066-5


"Ada pertolongan bagimu di sini. Kenapa kau tidak pulang ke rumah ?"  kata Gloria, isteri B.J. Thomas.

            Menyentuh hati.... Itulah kata-kata dalam telepon yang diungkapkan Gloria, isteri B.J. Thomas ketika menjawab suaminya yang tidak bisa menghentikan kebiasaan kecanduan narkotika.  Suatu kata-kata yang pada akhirnya mengubah jalan hidup penyanyi pop ternama di Amerika Serikat era 1970-an  B.J. Thomas pada pertobatan dan kesembuhan terhadap kecanduan narkotika. Bahkan lebih jauh, peristiwa itu membawanya pada langkah  berhenti merokok yang jauh lebih sulit pada bulan-bulan pertama. Kata-kata itu pulalah yang membuat penyanyi pop ini kembali kepada isteri dan anaknya, Paige.
            Ia diterima dengan tangan terbuka oleh keluarganya yang memang menginginkan kembalinya B.J. Thomas. Padahal, Gloria dan Paige ditelantarkan begitu rupa dan juga mengalami tekanan batin dan fisik serta finansial yang morat-marit yang membuat Gloria mengambil keputusan untuk bercerai. Apalagi, cintanya kepada B.J. Thomas lama kelamaan luntur.
            Sementara B.J. Thomas meskipun sangat mencintai Gloria, merasa tidak pantas hidup bersama lagi karena setiap kali kumpul selalu perang mulut, main tangan, gara-gara narkotika yang dikonsumsinya. Ia pun menyadari hal itu dan menyesal, tetapi berulang kembali dilakukan. Pernikahan mereka diambang kehancuran yang tak mungkin terpulihkan. Cinta Gloria kepada B.J. Thomas, semakin hari semakin pudar dan padam. Ketika mereka bersama lagi dan pelantun lagu Raindrops Keep Fallin on My Head dan Another Done Somebody Wrong Song yang sangat populer ini tetap teler dan tidak bisa menghentikan kebiasaan itu karena berbagai macam narkotika yang diasupkan ke dalam tubuhnya mulai dari ganja, kokain, maupun valium. Semuanya dikonsumsi ayah Paige ini dalam jumlah yang sangat tinggi (over dosis) sehingga menghasilkan efek terhadap tubuh yang hebat dan luar biasa. Gloria juga mempunyai keterbatasan yang awalnya ia berniat mendampingi suaminya agar bisa sembuh, tetapi ia sendiri akhirnya tidak tahan terhadap kondisi yang mencekam itu sampai ia menemukan kekuatan rohani dalam diri Yesus Kristus dan mengatakan kata-kata yang membangkitkan minat untuk sembuh dalam diri suaminya seperti dikutib di atas. "Ada pertolongan bagimu di sini. Kenapa kau tidak pulang ke rumah ?" tanya Gloria.

Iseng
            Awal ketergantungan B.J. Thomas ini pada narkotika adalah iseng dan bersenang-senang. Padahal, ia tergolong penyanyi pop yang sukses dengan terjualnya piringan hitamnya hampir 35 juta buah ini. Dari awalnya iseng dan bersenang-senang kecil-kecilan ini, lama kelamaan dan menjadi biasa. B.J Tohmas menjadi tergantung pada narkotika apalagi ketika acara 'manggung'-nya padat dan berhari-hari sehingga dituntut selalu dalam kondisi prima. Dan, ‘kebugaran' semu itu didapat dari pengaruh narkotika.
            Anehnya, ia sendiri menyadari akan akibat negatif obat bius itu, tetapi ketergantungannya sudah tampak tak bisa dikendalikan lagi. Ia seakan tidak bisa terlepas dari obat bius itu. "Obat-obat bius itu telah menyebabkan aku menjadi sangat bingung, sehingga aku hanya akan mengikut saja ke arah mana angin yang bertiup paling kencang itu berhembus membawaku," katanya (hal. 64 - 65).
            Beberapa kali dicobanya untuk berhenti dan mengenyahkan obat-obat narkotik itu. Ia ingin berhenti. Ia ingin lepas dari jeratan narkotik itu. Tapi, tidak bisa. Tubuhnya tidak mau kompromi. Tubuhnya minta jatah asupan narkotik yang kian hari kian tambah dosisnya. Tubuhnya kejang-kejang seperti kena penyakit ayan jika asupan narkotik itu dihentikan. Namun, ketika asupan narkotik itu dituruti, kembali lagi B.J Thomas tidak bisa mengendalikan diri untuk mengonsumsi obat bius lebih banyak lagi. Tambah banyak lagi untuk menambah efek semu yang mengesankan.
            Pada puncaknya, selama berhari-hari B.J. Thomas teler terus menerus. Yang dilakukan bukan menyanyi karena ia telah merusak karirnya sendiri, tetapi bebas tanpa hambatan kegiatan atau rutinitas untuk mengkonsumsi segala jenis narkotika dalam jumlah yang cukup banyak. Ia tidak tidur berhari-hari meskipun tubuhnya mulai kelelahan minta istirahat, tetapi terus dipaksa teler. Ia ingin tidur tetapi tidak bisa. Tubuhnya terus menerus menuntut asupan narkotik sehingga ia sendiri merasa capek. Begitu capek, minta tambahan narkotik lagi. Terus begitu. Untungnya, rahmat Tuhan melalui kata-kata isterinya, menolong dan menuntun dia pulang ke rumah.
            Sementara Gloria sendiri seperti menghadapi jalan buntu ketika berpisah dari suaminya. Bukan sekedar hambatan finansial untuk membiayai hidupnya dan putrinya, Paige saja, tetapi juga mental dan sekaligus imannya. Ia tergoncang luar dan dalam. Ia mengalami krisis iman. Ia yang biasanya tegar dan ulet untuk menolong suaminya lepas dari narkotika meskipun sering disakiti tiap kali oleh suaminya, akhirnya menyerah juga. Semuanya tampak gelap.
            Justru di saat itulah ia bertemu dengan Jim dan Micah Reeves, sepasang suami isteri anggota salah satu gereja. Dari pertemuan dan pergaulan dengan keluarga ini, Gloria sedikit demi sedikit mengalami kesembuhan dari depresi dan mulai membangun hidup kristen. Ia akhirnya dibaptis. Bagi Gloria, hidup kristen inilah yang menjadi jawabanya yang selama ini dicarinya. Menjadi jawaban atas persoalan-persoalan yang menimpanya.

Kesaksian Hidup
            Cintanya yang meskipun padam kepada B.J Thomas, Gloria merasa perlu menolong suaminya, ayah Paige itu. Ia merasa perlunya memberi pertolongan dan kesaksian hidup kepada suaminya yang berada dalam kegelapan narkotika. Di sinilah muncul kata-kata indah dan menyembuhkan itu' "Ada pertolongan bagimu di sini. Kenapa kau tak pulang ke rumah ?" Kata-kata inilah yang menggerakkan langkah B.J. Thomas bertemu dengan Tuhan baik melalui keluarganya, pertemuannya dengan Jim dan Micah atau membaca Kitab Suci atau penyesalan penyanyi pop itu. Dari situlah mujizat-mujizat kesembuhannya dimulai. Ia menyerahkan kerinduannya dan segala permasalahannya kepada Tuhan. Tuhan Yesus memberi kesembuhan. Ia bisa tidur nyenyak tanpa dihantui oleh ketakutan-ketakutan yang membawa pada narkotika dan akhirnya ketagihan itu. Tuhan Yesus menjawab semuanya.
            Suatu kisah nyata yang menarik dan memancarkan semangat kepada pembaca. Buku ini memang tergolong dalam buku jadul atau lama dalam penerbitannya. Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sekitar tahun 1986. Tampilan fisiknya juga sederhana (kertasnya bukan kertas berkualitas sekelas HVS atau luks). Namun, isinya sangat bermanfaat dan sangat berharga. Itulah yang membuat buku ini tampil dalam keaktualannya meskipun buku lama. Bagi pecandu narkotika yang ingin sembuh atau pendamping pecandu narkotika, buku ini tentu mempunyai arti yang khusus.
            Pada akhir kisah ini, B.J. Thomas dan Gloria menceritakan bahwa berkat bantuan Yesus Kristus pula, ia dan isterinya berhasil menghentikan kebiasaan merokok mereka sama sekali, tanpa mengurangi kegiatan merokok itu secara berangsur-angsur. Bulan pertama ketika berhenti merokok itu bagi B.J. Thomas sungguh suatu kesusahan yang berat. Bulan pertama itu, menurutnya, justru diliputi keinginan cepat marah yang tinggi dan kadang disertai pertengkaran.
            Namun, mereka berhasil melaluinya. Ketika ia ingin merokok, justru ini malah mendorong lebih mendekat kepada Kristus. Mengapa ? "Karena aku tahu bahwa aku tidak dapat mengalahkannya dengan kekuatanku sendiri," tegas B.J. Thomas.
Selamat membaca. Semoga ditulari semangat mereka. Tuhan Yesus memang luar biasa...wow gitu lo...keren...

dsw

Minggu, 07 Oktober 2012

Yohanes dari Salib


Data Buku
Judul           : Yohanes dari Salib
Judul asli     : John of the Cross
Penulis        : Wilfrid McGreal
Penerjemah : Mei Setiyanta
Editor Seri   : Peter Vardy
Penerbit  : Kanisius
Tahun     : 2005;  cetakan ke lima
Tebal      : 92 halaman;  14    x    20,5 cm
ISBN     : 979-21-0095-4

"...Inilah yang membimbingku / lebih pasti dari cahaya siang /
ke tempat ia sedang menungguku - ia yang aku kenal begitu akrab/
di sana di sebuah tempat di mana tak seorangpun kelihatan./
O malam yang membimbing !/
O malam yang lebih mempesona dari fajar !/
O malam yang telah menyatukan /
Sang Pengasih dengan kekasihnya,/
mengubah sang kekasih menjadi Sang Pengasih.
(Malam Gelap (The Dark Night), Yohanes dari Salib)


            Roh kecurigaan dan perselisihan, roh kesombongan dan iri hati, ternyata lebih lihai dari yang diperkirakan akal manusia. Tidak pandang di lingkungan profan (duniawi) atau pun religius (biara). Roh itu cerdik menyelinap dan mengelabuhi. Ia ingin membuyarkan setiap rencana Allah yang bekerja dalam usaha dan kehendak baik orang-orang yang dikasihi-Nya. Kalaupun roh itu gagal mengacaukan rencana Allah, ia setidaknya menghambatnya agar manusia dan kemanusiaan sejati terbelenggu dalam dosa terus.
            Gerakan reformasi yang digulirkan Teresa dari Avila dan Yohanes dari Salib di kalangan biara Karmelit, dibuatnya dihukum cambuk dan dipenjara dalam sel tersendiri terlepas dari persaudaran. Roh pemecah belah itu memang berhasil menebarkan jebakannya, tetapi dihadapan Yohanes dari Salib justru di kegelapan malam karena mengikuti jejak Tuhan Yesus Kristus itulah, si penjebak itu menyingkapkan siapa dirinya yang sejati, yakni si pembuat onar, pembinasah manusia sejak awal mula.
            Dalam kegelapan dan kesengsaraan, seperti gurunya Yesus Kristus seperti diwahyukan dalam Kitab Suci, tidak membuat Yohanes dari Salib putus asa, tetapi justru mendapat pengalaman-pengalaman religius yang diungkapkan dalam puisi-puisi indahnya. Ia justru memperoleh rahmat meskipun melewati jalan sempit (dan penuh kesukaran). Tidak berhenti disitu, Yohanes dari Salib ini memberikan kesaksian otentik. Ia mengajarkan jalan itu kepada orang-orang yang ingin mencapai kebersatuan dengan Tuhan. Di sinilah dia menjadi pembimbing yang bisa diteladani di masa kini justru di tengah-tengah banyak guru-guru dan pembimbing rohani palsu. Itulah sosok Juan de Yepes (1540 - 1591) yang dikenal dengan Yohanes dari Salib.
            Bagaimana pengalaman, pemikiran, dan bimbingan Yohanes dari Salib dapat kita pakai untuk mengolah pengalaman-pengalaman kita sendiri untuk kematangan hidup rohani ? Buku Yohanes dari Salib ini memberi tawaran jawaban yang menarik. Buku karya Fr. Wilfrid MvGreal, OCarm ini mengantarkan kita memahami jalan yang dilalui Yohanes dari Salib itu. Pembahasannya ringkas, padat, dan jelas sehingga mudah dipahami dan tentu membangkitkan semangat rohani menuju kesempurnaan, Gunung Karmel, Gunung Kesempurnaan.
            Intinya, cara menuju keakraban dengan Tuhan adalah dengan melepaskan segala sesuatu yang dianggap sangat disenangi dan sangat penting dalam hidup. Sungguh suatu cara yang tidak mudah. Suatu jalan yang sempit. Yohanes dalam The Ascent of the Mount Carmel (Pendakian Gunung Karmel) menunjukkan antitesis 'todo' (segala) dan 'nada' (tiada). "...'nada' atau tiada, merupakan bagian dari sebuah proses mencapai kebebasan pribadi yang mendalam - pelepasan beban yang menghambat perkembangan diri. 'Nada' adalah jalan yang menjadi bagian dari perjalanan yang disebut malam gelap," kata penulis buku Guilt and Healing Fr. Wilfrid McGreal, OCarm ini (h. 55).
            Suatu malam gelap sendiri, menurut Yohanes dari Salib terdiri dua tahap, yaitu 'malam aktif bagi rasa' dan 'malam pasif bagi jiwa'. Perpindahan dari tahap satu ke tahap lainnya adalah perpindahan dari meditasi menuju doa kontemplasi. 'Malam aktif bagi rasa' dimulai oleh seseorang yang ingin lebih dekat dengan Tuhan. Di tahap inilah tahap koreksi atas tingkah laku yang penuh dosa dan kepuasan yang berpusat pada diri pribadi, dilakukan. Sedangkan 'malam pasif bagi jiwa', merupakan tahap akhir berupa pemurnian akhir yang mengarah dengan pengalaman mistis yang mendalam. Di sinilah butuh kesabaran karena berlangsung dengan lambat. Seseorang merasa tak berdaya, hancur, dan segala sesuatu tampak gelap seakan-akan Tuhan telah mengabaikannya.
            Dua tahap itu sebenarnya, menurut Wilfrid McGreal, bukanlah suatu kemutlakan karena setiap pribadi itu unik. Dan, lagi, tindakan Tuhan dalam hidup kita sifatnya bebas, tidak bisa ditentukan, dianalisa, apalagi diprediksi.

Modern

            Dunia modern saat kini dipenuhi dengan ketidakpastian. Yang transenden pun tidak menjadi perhatian. Kehidupan rohani pun dibiarkan kering, lalu layu, dan akhirnya mati. Hubungan dengan Tuhan retak bahkan penuh dengan penolakan manusia sendiri. Demikian juga dengan hubungan dengan sesama. Egoisme berkembang seperti jamur di musim hujan. Manusia terobsesi dengan dirinya sendiri. Hiruk pikuk konsumerisme di sana sini menjadi semangat pribadi, tetapi tidak mempunyai perasaan terhadap dunia dan tidak memiliki tanggungjawab sosial. Lantas, dalam situasi demikian, apakah kita bisa mendengar Yohanes dari Salib ?
            Sangat bisa, jawabannya. "Dia adalah seorang guru yang membawa pesan kebebasan, kebebasan yang memungkinkan kita menjadi sadar akan diri dan pribadi kita sepenuhnya," tegas Wilfrid McGreal. Justru, dalam kondisi dewasa kini, Yohanes dari Salib menantang pembacanya. Ajarannya, justru tentang hal-hal yang mendasar yang sering diabaikan manusia dewasa kini.
            Membaca buku ini, tidak saja membangkitkan semangat kerohanian dan menyegarkan, tetapi lebih jauh melihat diri dan menggugatnya, ketika jiwa terbelenggu dalam arus zaman. Mungkin hal itu tidak mengenakkan dan tidak memuaskan keinginan kita untuk selalu dihibur dan dibuai sampai mati. Kalaupun boleh dikatakan sebagai satu-satunya hiburan ketika kita mengalami kegelapan adalah Salib Tuhan Yesus. Seperti Yohanes dari Salib mengikuti jejak Yesus Kristus, mengikuti salib-Nya. Lantas, kita tidak sendirian lagi.
            Buku ini pada akhir babnya disandingkan dengan pendekatan psikologi kontemporer berkaitan dengan bimbingan rohani. Ini penting karena orang yang ingin mencapai kematangan rohani, membutuhkan bimbingan rohani dengan pembimbingan rohani yang tidak hanya sekedar bijaksana dan cermat, tetapi juga berpengalaman. Selamat membaca dan dibimbing Yohanes dari Salib...

Daniel Setyo Wibowo

Go Ask Alice


Data Buku

Judul          : Go Ask Alice. Buku Harian Seorang Remaja Pecandu Narkoba
Judul asli    : Go Ask Alice. (Judul diambil dari White Rabbit  yang ditulis Grace Slick)
Penulis       : Anonim
Penerjemah : Sabine
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun   : 2005 (cetakan keempat)
Tebal    : 187 halaman;  13,5  x  20 cm
ISBN     : 979-22-0840-2





Rapuh.....!
            Kata itulah yang mungkin tepat menggambarkan kita yang ditulis  oleh seorang remaja berusia limabelas tahun (anonim) dalam buku hariannya (diary) yang kebetulan menghadapi masalah berat kecanduan narkoba dan seks bebas. Buku harian  itu kemudian diterbitkan dengan judul Go Ask Alice.
            Sifat manusia kita yang rapuhlah yang membuat kita merasakan bersama dan memahami apa yang dialami penulisnya dan berempati kepadanya. Kita sebenarnya juga rapuh seperti gadis remaja ini. Kita seakan mengalami bersama seperti pengalaman kesenangan, kesepian, kesendirian, menangis, kadang-kadang putus asa, berkali-kali usaha tetapi jatuh lagi. Dan, bahkan menutup buku ini kita merasa kehilangan mendengar bahwa remaja itu meninggal karena overdosis. Selamat jalan kawan....Kami menitikkan air mata.
            Remaja putri berumur 15 tahun ini seperti halnya remaja lainnya dan tentunya kita juga (yang kadang merasa sok mempunyai kondisi psikologis yang stabil dari pada si pecandu remaja, padahal kita juga rapuh) berawal dari masalah-masalah seperti asmara, pelajaran sekolah, omelan orang tua, kegemukan, pencarian jati diri, rendah diri, kebosanan (siapa yang tidak mempunyai masalah-masalah seperti itu ?) akhirnya terjaring oleh jaringan narkotika. Awalnya melalui teman-temannya yang mengajak pesta dan sekedar meminum 'coke' yang sudah diberi LSD (lysergic acid diethylamide) di rumah pecandu seperti Jill pada 10 Juli.
            Pengalaman itu mengasyikkannya dan seakan-akan ia bisa melepaskan semua kepenatan dan kebosanannya yang dialaminya. Sejak itulah, dia memandang dunia narkoba secara berbeda. Dunia narkotika penuh keindahan, mengasyikkan, menggairahkan, kenyamanan, merasa hebat, luar biasa, merasa menemukan jati diri, dan sebagainya. Ini sangat berlawanan dengan pandangan yang dipegangnya selama ini baik dikatakan orang tua, anjuran-anjuran, pelajaran sekolah dan sebagainya yang menyebutkan bahwa dunia narkoba adalah dunia yang menyeramkan.

Kebingungan 
           Dari sinilah muncul kebingungan-kebingungan, keresahan-keresahan, ketakutan-ketakutan, bahkan kebohongan-kebohongan. Ia membenci teman-temannya yang membuat dirinya kecanduan dan narkoba yang dikonsumsi dan ingin menjadi anak 'baik-baik', tetapi ia tidak bisa membendung keinginan kuat untuk mengkonsumsi segala bentuk narkotika karena mempunyai dampak yang luar biasa, mengasyikkan. Terhadap kebingungan dan keresahannya itu, ia pendam sendiri dan berusaha dicurahkan dengan dirinya lewat diary, sahabatnya yang dianggap penuh pengertian, penuh empati, selalu memafkan, selalu bersabar, bersahabat, tidak pernah mengomel, dan kualitas-kualitas positif lainnya. Suatu dialog diri yang menganggap “sahabat diary”-nya ini lebih sempurna. Suatu bentuk - meminjam istilah Jean-Paul Sartre - transendensi ego. Ia tidak berani jujur terbuka dengan orang tuanya yang sangat mengasihinya.
            Keresahan itu semakin meningkat ketika ia melakukan hubungan seksual pertama kalinya dengan teman telernya karena mengkonsumsi narkotik, Bill yang sebenarnya tidak disukainya tetapi karena ia merasa bernafsu setelah teler. Keresahannya memuncak ketika Roger, orang yang dicintainya mengunjunginya. Ia tidak mau menemuinya karena merasa diri sangat bersalah dan kotor. Sejak itu, ia berusaha berhenti mengkonsumsi narkotika. Dan, ia merasa lega saat ia mengalami menstruasi. Suatu tanda bahwa ia tidak hamil akibat hubungan seks itu. "Hari yang luar biasa, indah, dan membahagiakan. Akhirnya aku datang bulan ! Belum pernah aku sebahagia ini dalam hidupku. Sekarang aku tidak butuh pil-pil tidur dan obat-obat penenang lagi. Aku bisa kembali menjadi diriku sendiri. Oh, wow !" katanya (hal. 43).
            Merasa bisa berhenti kapan ia mau (seperti kita yang juga merasa selalu bisa kapan kita mau, bukan ?) tetapi akhirnya jatuh lagi ketika mengenal Chris yang memberi permen kecil yang membangkitkan semangat. Lalu mendapat pekerjaan bersama Chris setiap Kamis dan Jumat malam. Dan, untuk menjaga berat badannya ia menelan Beny (Benzedrin / amfetamin sulfat). Ia memang sangat takut terhadap kegemukan. Ia juga mulai mencoba mengisap ganja sepulang kerja bersama teman-teman Chris, yaitu Ted dan Richie dengan pipa hookah (bong). Pertemanan teler itu justru membuat ia lebih dalam terlibat dalam narkotika baik sebagai pemakai maupun pengedar kepada anak-anak SD. Ted adalah pacar Chris dan Richie akhirnya menjadi pacarnnya yang justru memanfaatkannya dan Chris menjadi pengedar. Bersama Richie, ia berpetualang berbagai macam narkoba dan petualangan sex sambil teler. Bahkan, ia merasa jatuh cinta dan tergila-gila kepada Richie sehingga ia mau melakukan apa saja demi Richie sampai akhirnya ketahuan kalau Richie dan Ted ternyata homoseksual ketika dipergokinya mereka sambil teler bercinta.
            Kedua cewek remaja itu, ia dan Chris, merasa terpukul dengan kejadian itu hingga memutuskan melaporkan Riche ke polisi sebagai pengedar dan minggat ke San Francisco, drop out dari sekolah dan meninggalkan keluarganya begitu saja. Ia takut pada Richie dan Ted serta teman-teman mereka sehingga minggat sambil melupakan masa lalunya sebagai pecandu. Setiba di San Francisco mereka mendapat pekerjaan di toko pakaian milik Shelia yang tiap malam mengadakan pesta dan menawarkan berbagai macam narkotika. Mereka berdua ikut diundang dan tidak tahan dengan bau ganja dan mulai mengkonsumsi narkotika lagi. Setiap malam ia selalu menginap di rumah Shelia hingga suatu saat Rod "pacar baru" Shelia memberinya heroin dan Speed (metamfetamin, kokain) kepada mereka  dan ternyata Rod dan Shelia memperkosa mereka berdua secara sadis dan brutal. Akhirnya, mereka memutuskan keluar dari pekerjaan dan meninggalkan dunia kacau itu dan mulai membuka butik kecil-kecilan. Ia mulai kangen dengan keluarganya dan meneleponnya yang disambut hangat oleh keluarganya.
            Kedua remaja ini lantas pulang dan disambut dengan kasih. Mereka ingin menutup lembar kelam pengalaman pahit sebagai pecandu. Ia ingin berhenti mengkonsumsi narkoba dan mulai hidup baru. Berbagai cobaan untuk masuk dunia narkotika melalui teman-teman pecandunya mulai meresahkanya. Kadang ia menang dan berhasil mengatasi godaan itu dengan bantuan kasih orang tuanya Dad dan Mom serta adik-adiknya Tim dan Alex. Meskipun orang tuanya tidak mengetahui bahwa dirinya kecanduan karena ia tidak cerita jujur. Di lain kesempatan, ia jatuh kembali. "Selama ini aku membohongi diriku, menganggap aku bisa memakai dan berhenti begitu saja....Kalau sudah pernah merasakan, hidup tanpa obat bius bukan lagi hidup namanya, melainkan eksistensi yang hambar, tanpa warna, kosong hampa...." (hal. 83 - 84).
            Pada akhirnya, orang tuanya mengetahui berkat suatu kasus dan dirinya mendapat hukuman percobaan dan setelahnya Dad dan Mom mengawasinya secara ekstra ketat. Kemana-mana diawasi. Berhasilkah ia berhenti menjadi pecandu setelah semuanya ? Ia tidak tahan lagi diawasi terus. Ia justru minggat dengan menumpang sembarangan pada kendaraan-kendaraan yang lewat yang kadang memanfaatkan mereka agar melakukan hubungan sex dengan mereka dan memilih teler di jalanan  di Oregon, Coos Bay, dan tidur di  taman. Akhirnya, ia memperoleh bantuan dari gereja seperlunya dan bertemu dengan Doris yang juga pecandu dan kemudian tinggal bersamanya karena Doris mempunyai persediaan ganja untuk dua minggu. Doris sendiri berumur 11 tahun sudah digauli ayah tirinya dan akhirnya menjadi pecandu. Dalam kisah minggatnya dan reli itu, mereka berdua mau berbuat apa saja, yaitu menjadi penjaja seks dengan siapa saja, termasuk oral dengan polisi asal memperoleh narkotika. Akhirnya, dengan bantuan pendeta yang mengerti anak-anak muda, ia kembali ke keluarganya yang tetap menerimanya dengan penuh kasih.

Tetapkan niat
            Di rumah, ia berhasil menetapkan niatnya bahwa ia ingin membangun hidupnya kembali dan ingin membantu teman-temannya yang mempunyai masalah yang sama. Ia sudah bisa menentukan sasaran apa yang harus dijalani dan diraih dalam hidup ini. Ia ingin menekuni bidang konseling. Dengan dukungan Dad dan Mom serta adik-adiknya Tim dan Alex serta kakek neneknya Gran dan Gramps, ia kuat kembali. Ia mempunyai tujuan hidup. Teman-temannya di sekolah yang menjadi pecandu terus menggoda agar dirinya kembali ke dunia mereka lagi. Ia bisa tahan meskipun diliputi keresahan di sana sini. Bahkan dia diancam dan dipaksa, dia tetap tahan.
            Selain keluarganya yang mendukungnya, ia kenal dengan mahasiswa ayahnya di universitas tempat ayahnya mengajar, Joel namanya. Joel mendukung dan menyemangati dirinya karena menyayangi dirinya. Iapun menyayangi Joel dan berharap menjadi suaminya kelak.
            Kemenangan diperoleh ketika ia dicobai oleh Jan yang memfitnah dengan tuntutan memakai sekaligus mengedarkan dan menyakiti bayi Mrs Larsen. Iapun dinyatakan bersalah dan ditempatkan untuk rehabilitasi di Youth Center. Pada waktu kejadian ia jujur mengatakan kepada ibunya, dan ibunya membenarkan tindakannya. Dalam kondisi dihukum itu, keluarganya dan Joel dengan surat-suratnya tetap mendukungnya. Dad memaksa Jan dan Marcie mencabut tuntutannya.
            Akhirnya, ia keluar dari Youth Center yang masih lebih baik dari pada ditempatkan di DT (Detention School, sekolah tahanan).
            Di rumah, kasih keluarganya dan dukungan Joel betul-betul membuatnya nyaman. Ia bahagia dengan kejutan-kejutan yang diberikan Dad, Mom, Tim, Alex, dan Joel. Namun, setelah tiga minggu ia memutuskan tidak menulis di buku harian lain, ia meninggal karena overdosis. Tidak ada keterangan apapun mengapa.
            Sungguh suatu kisah yang menyentak. Usaha menulis buku harian untuk bertemu dan berkawan dengan diri mampu membuat ia bertahan terhadap absurdnya dunia. Ternyata, bertemu dengan diri,  kemanusiaan itu rapuh, lemah, keropos. Berkat tulisannya di buku hariannya yang diterbitkan ini, kita memahami manusia itu memang rapuh. Selain membutuhkan dukungan orang lain (keluarga) ia membutuhkan kekuatan ilahi. Dunia narkoba memang dunia kegelapan. Kita membutuhkan terang jika kita berada di dalamnya.
            Buku ini sangat bagus bukan buat para remaja saja, tetapi para guru, orang tua, pendamping remaja, dan siapa saja yang mempunyai perhatian bukan saja terhadap masalah narkoba, tetapi dunia remaja pada umumnya.
            Dengan membaca buku ini, kita tidak saja memahami seperti apa jiwa remaja, tetapi juga betapa jahat dan cerdiknya narkoba itu. Ia mempergunakan sisi kelemahan manusia dan masuk mengobrak-abrik semuanya. Ia tahu sisi yang paling lemah dari manusia. Dia tidak pandang bulu menyerang bukan hanya remaja bahkan orang dewasa, tetapi juga anak-anak SD.
            Tanpa memahami semua itu dan perhatian tulus, maka sulit untuk "memerangi" narkoba dan bersahabat dengan remaja yang memang membutuhkan 'bimbingan' dan teladan.
            Kiranya, buku ini bermanfaat besar sekali dan perlu disambut hangat. Selamat membaca.

Daniel Setyo Wibowo

Jumat, 01 Juni 2012

Jawa Dicengkeram Candu


Data Buku
Judul  : Opium To Java; Jawa dalam Cengkeraman Bandar-Bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860 – 1910
Judul Asli    : Opium To Java; Revenue Farming And Chinese  Enterprise in Colonial Indonesia 1860-1910
Penulis        : James R. Rush
Penerjemah : E. Setiyawati Alkhatab
Penerbit      : MataBangsa
Tahun         : 2000 (cet. Pertama)
Tebal          : xx + 604 halaman
ISBN          : 979-9471-00-1

 Perih di dalam dada melihat gambar dan membaca paparan buku ini tentang kondisi korban-korban opium. Berdiri bulu kuduk mendengar penjelasan perilaku, sistem, kultur, dan tradisi yang menciptakannya dan yang mendukungnya karena keuntungan material semata dan hasrat menguasai (will to power) belaka meskipun dibungkus dengan alasan-alasan etis.
                Itu kesan utama membaca huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, dan bab demi bab (tetapi tidak jarang terlewatkan juga) buku James R. Rush berjudul Opium To Java; Jawa Dalam Cengkeraman Bandar-Bandar Opium Cina, Indonesia Kolonial 1860 - 1910 ini.
                Opium adalah nama lain dari produk narkotik yang dijual di Jawa dengan nama candu, yaitu opium mentah yang disuling dan kemudian dicampur dengan penguat rasa dan sejumlah bahan campuran lainnya. Sedangkan produk yang kualitasnya rendah dan lebih murah disebut oleh orang Jawa sebagai tike. Candu dihisap dengan badutan yang sangat mahal harganya. Sedangkan tike biasanya dicampur dengan daun awar-awar (ficus septica) atau bisa dicampur dengan tembakau yang digulung dengan daun jagung (klobot) sebagai rokok.
                Yang mengherankan, ternyata konsumsi candu di Jawa pada tahun 1882 sangat tinggi. Diperkirakan satu dari dua puluh orang Jawa menghisap opium. Candu diperjualbelikan bebas. Sebelum Belanda (VOC) menguasai dan memonopoli opium, saudagar-saudagar Arab pun juga memperjualbelikan opium ini di Asia, termasuk Jawa. Setelah berhasil berkuasa pada tahun 1677, Kompeni Hindia Timur Belanda (VOC) membuat perjanjian dengan Raja Amangkurat II dari Jawa yang menjamin diberikannya monopoli untuk mengimpor opium dan mengedarkannya di wilayah kerajaannya, Mataram. Tidak lama kemudian, kerajan Cirebon bertindak hal yang sama. Akhirnya, peredaran opium menyebar keseluruh Jawa, kecuali Priangan (Sunda) dan Banten karena kuatnya penolakan ulama. Baru setelah dibuka toko-toko opium di bawah Regi Opium, peredaran opium juga melanda wilayah-wilayah ini.
                Buku karya James R Rush ini banyak menguraikan bagaimana Jawa berada dalam cengkeraman bandar-bandar opium Cina Cabang Atas, Regi Opium Belanda, dan jaringan masing-masing dari pusat sampai ke pedesaan-pedesaan, termasuk mata-mata bandar atau regi sampai peran pamong desa jagabaya, khususnya pada masa kolonial pada paruh akhir  abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
                Di puncak hierarki, Kompeni Hindia Timur Belanda (VOC) mengimpor opium mentah dan menarik pajak (cukai) untuk penjualannya. Ini dapat dilakukan karena Belanda mempunyai hak monopoli perdagangan opium dan melelangnya kepada syahbandar-syahbandar opium Cina Jawa. Syahbandar-syahbandar ini beroperasi sesuai kontrak satu tahun atau tiga tahun. Dalam operasinya, syahbandar-syahbandar ini mempunyai penjamin berupa kongsi dan mempunyai jaringan ke bawah dan ke samping. Bandar-bandar ini adalah sebuah elite kecil tetapi berkuasa, yang paling kaya, dan sukses. Inilah orang-orang Cina Cabang Atas dalam komunitas orang-orang Cina Jawa.

Dianggap Wajar
                Peredaran opium sudah dianggap wajar dan biasa di Jawa, bahkan tidak jarang dipakai sebagai obat misalnya penurun panas atau menahan sakit dan sebagainya. Sebenarnya, pasar gelap opium tidak ada gunanya lagi karena peredaran resmi saja sudah marak. Benarkah begitu ? Ternyata, peredaran opium di pasar gelap justru ramai, mencapai 60 % dari perdagangan ke seluruhan di Jawa. Salah satu penyebabnya, candu resmi harganya mahal. Tenaga-tenaga jasa keamanan syahbandar yang disuruh mengawasi penjualannya di desa-desa karena takut persaingan dengan para pengedar tidk resmi.
                Bisa dibayangkan, petani-petani sederhana dan miskin serta keluarganya dan masyarakat pada umumnya semakin dipermiskin dengan sistem opium ini. Rasanya, sulit dibayangkan kalau Jawa lepas dari konsumsi si mbok lara ireng ini. Dari mana datangnya kesadaran untuk lepas dari  candu dan harapan hari esok lebih baik ? Apakah konsep ratu adil yang memang marak di kalangan Jawa? Pasukan Diponegoro juga ada yang memakai candu agar berani berperang.  Dalam alenea terakhir buku inipun, mengisyaratkan pesimisme tersebut. Untuk membiayai perjuangan kemerdekaan pun, ternyata juga dibaiayai oleh pelelangan stok Regi Opium yang masih tersisa (hal.553).
                Meskipun demikian, selalu ada perlawanan dalam suatu kegelapan akibat opium itu. Kita perlu mencari jejak-jejaknya untuk menumbuhkan optimisme yang bukan sekedar membuai tetapi yang lebih realistik. Dari mana kita menemukan kesadaran itu ?
                Dari para syahbandar opium, jelas tidak mungkin. Dari pemerintah (Belanda), rasanya juga sulit meskipun menempuh politik etis dan menganggap Hindia Belanda sebagai 'adik kandung'-nya sendiri yang perlu diangkat. Atau dari para priyayi Jawa dalam pemerintah-pemerintah lokal seperti bupati, wedana, asisten wedana, camat, demang, jagabaya ? Ini lebih sulit lagi di samping sistem feodal yang sangat kuat, mereka mendapat cantolan kekuasannya pada pemerintahan Belanda karena cantolan pada raja sudah longgar atau bahkan tidak ada lagi. Atau mungkin kesadaran itu muncul dari pecandu opium itu sendiri yang selalu pergi ke pondok-pondok opium di kota dan menghisap candu di bale-bale, berbaring berselonjor kaki dengan badan setengah miring sambil melepas ikat kepala supaya rambut hitam yang panjang tergerai di atas bantal bale-bale itu ? Sepertinya juga tidak. Kalau demikian, jangan-jangan yang muncul justru Suluk Gatoloco (digambarkan sebagai kepala penis) yang ditulis seorang priyayi mistik Jawa untuk mengolok-olok kaum muslim farisi selagi menghisap candu.
Kesadaran
                Kesadaran itu bisa diharapkan, misalnya dari seorang bernama Multatuli alias Eduard Douwes Dekker yang menulis Max Havelar sebagai novel politik bahkan dikenal sebagai 'opium roman'. Novel itu menjadi semangat zamannya untuk berjuang. Kesadaran itu juga bisa diharapkan dari sosok seperti M.T.H. Perelaer yang melawan sistem opium ini dengan novel anti-opiumnya berjudul Baboe Dalima yang diterbitkan sekitar tahun 1886 dalam bahasa Belanda. Tentu novel ini menusuk jantung pemerintahan Belanda dan elit berkuasa di Belanda. Nama Isaac Groneman juga menyerukan semangat yang sama anti-opium dengan novel Een Ketjoegeschiedenis, Kisah Seorang Ketjoe (baca: kecu = rampok, bandit). Tidak ketinggalan juga Pieter Brooshooft ujung tombak koran Semarang De Locomotief yang mengeluarkan petisi dalam buku Memorie Over den toestana in Indie (Memorandum tentang Keadaan di Hindia).
                Tidak kalah menariknya dalam semangat anti-opium ini adalah RA Kartini dengan surat-suratnya (Surat-Surat Kartini. Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya diterjemahkan Sulastin Sutrisno, 1979). Dalam surat pertamanya kepada Nona E.H. Zeehandelaar atau Nona Stella, justru dia merasa prihatin terhadap kesengsaran bangsanya, Jawa. Ia menyebut candu sebagai benda laknat (putri Jawa yang halus perasanya harus mengatakan demikian). Penyakit sampar Jawa bukannya pes tetapi lebih dari pada pes, yaitu candu.
                Semangat anti-opium yang memang kecil pada awalnya tetapi terus menggelinding makin besar dan akhirnya membelok ke arah politik dan melahirkan Politik Etis. Apa yang terjadi ketika Politik Etis itu menangkap semangat dan gelora anti-opium itu ? Kita boleh ikut bersorak karena bandar-bandar opium dihapus. Tapi, ternyata bandar-bandar opium itu hanya diganti dengan sistem Regi Opium yang tidak kalah eksploitatifnya dibanding dengan bandar-bandar sebelumnya bahkan lebih terang-terangan.
                Akibatnya, jaringan opium bandar-bandar Cina Cabang Atas porak poranda. Tapi, dengan demikian malah muncul pengusaha-pengusaha tangguh dan ulet dari kalangan Cina seperti Oei Tiong Ham dan generasi muda Cina Jawa yang menjauhi opium. Sementara orang-orang Jawa tetap dicengkeram opium di bawah Regi Opium. Bahkan dengan semangat Politik Etis, Belanda dengan bangga menunjukkan proyek etisnya berupa pabrik opium terbesarnya di Batavia. Program pendidikan digalakkan di kalangan elite Jawa, tetapi hasilnya kebanyakan diserap sebagai pegawai-pegawai Regi Opium, mantri penjualan opium dan pembantu-pembantunya. Merekalah yang bertugas menjual opium kepada bangsanya sendiri, saudara-saudaranya sendiri, tetangga-tetangganya sendiri, teman-temannya sendiri.
                Dengan alasan moral, politik etis Belanda memang berhasil mengenyahkan bandar-bandar opium yang sebenarnya adalah ciptaan Belanda sendiri. Sebagai gantinya, penjualannya di tangan Belanda sendiri. Dengan demikian, keuntungannya berlipat-lipat. Selain itu, kesadaran orang-orang Jawa di bawah kendalinya, tanpa perlawanan yang berarti sampai berakhirnya kekuasaan Belanda sendiri karena dipaksa Jepang.
                Buku ini merupakan penelitian James R. Rush dimulai di Yale University. Sungguh sangat bermanfaat untuk mempelajari lebih lanjut tantangan-tantangan kini dalam bentuk-bentuk barunya seperti narkotika dan yang lebih dekat dengan opium adalah rokok. Belajar dari sistem-sistem dan kultur yang terjadi di masa lalu, kita bukan hanya memetik hikmah saja tetapi lebih mampu memahami sistem yang sekarang terjadi sehingga menyiapkan antisipasi yang mungkin akan terjadi di masa depan. Itulah gunanya sejarah. Mengenal diri kita sendiri.
                Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia oleh penerbit MataBangsa yang dilakukan E.Setiyawati Alkhatab, juga perlu dilihat dalam konteks itu sehingga buku ini tidak hanya menjadi milik elite intelektual di kantung-kantung lembaga universitas atau LSM dan bahkan mungkin hanya diletakkan di gudang buku, tetapi juga dapat memberi semangat publik. Dalam banyak hal, misalnya, buku ini juga mengacu sejarawan seperti Onghokham. Dan, ia sosok anti-rokok (saudara sepupu candu) mulai di era BPPC meskipun ia tetap hedonis masakan dan minuman.
                Akhirnya, meskipun buku James R. Rush ini diterbitkan dalam Bahasa Indonesia duabelas tahun yang lalu, kiranya masih relevan untuk masa kini mengingat narkotika (dan tentunya rokok) masih mencengkeram bangsa Indonesia. Selamat membaca.
Daniel Setyo Wibowo

Fransiskus dan Bonaventura


Data Buku
Judul: Fransiskus dan Bonaventura
Judul Asli : Francis and Bonaventure
Penulis : Dr. Paul Rout, ofm
Penerjemah : Anton Wuisan
Editor Seri : Peter Vardy
Penerbit : Kanisius
Tahun : 2005 (cet. Kelima)
Tebal : 102 hal.; 14 x 20,5 cm
ISBN : 979-21-0134-9
 
"Kita seharusnya tidak boleh percaya bahwa membaca saja sudah cukup tanpa merasakan, merenung tanpa devosi, menelaah tanpa keingintahuan, mengamati tanpa kegembiraan, bekerja tanpa kesalehan, mengetahui tanpa cinta, memahami tanpa kerendahan hati, berikhtiar tanpa rahmat ilahi." (Bonaventura, I Prologue 4)

Berjumpa dengan Allah sungguh merupakan hal yang paling mempesonakan dan sekaligus menggentarkan (nominosum fascinosum et tremendum), meminjam istilah Rudolf Otto, bukan saja bagi orang kudus dari Asisi yang fenomenal itu, Fransiskus, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang dan dunia. Bonaventura bukan hanya menyingkap misteri itu, tetapi tersedot juga dengan pengalaman Fransiskus yang membuat jiwanya melompat kegirangan.

Pengalaman Fransiskus yang otentik itu, tampak secara lahiriah tidak masuk akal. Ia yang biasanya berhura-hura bersama kawan-kawannya untuk menyanyi dan berkeliling ke sana kemari serta menggebu ingin menjadi ksatria dengan ikut berperang dalam negara-kotanya, tiba-tiba meninggalkan semua kesenangannya itu termasuk lindungan orang tuanya yang kaya raya. Ia pulang di medan laga perang seperti seorang pengecut bahkan kalah sebelum perang. Lebih-lebih tidak masuk akal lagi, orang yang biasanya menghindar dari orang kusta karena jijiknya, justru kini malah turun dari kuda, memeluk, dan menciumnya. Dari sinilah kehidupannya berubah 180 derajat. Berbalik dari kesenangan dan kesia-siaan duniawi dan masuk dalam kuasa ilahi. Suatu pertobatan total.

Apa yang menjadi sukacita (sejati) baginya, kini semakin mencengangkan banyak orang, yaitu ketika ia ditolak bermalam di biara yang didirikannya sementara di luar kondisinya malam, hujan salju, sangat dingin, dan tubuhnya sakit. Bagi pengalaman Fransiskus, itulah justru sukacita sejati jika hal itu diterima dengan sabar, tidak marah, dan penuh kasih.

Pengalaman-pengalaman Fransiskus baik yang diceritakan seperti Thomas Celano atau Bonaventura atau surat-surat Fransiskus (berupa karya-karya 'dikte') dan Anggaran Dasar (baik Anggaran Dasar Tanpa Bulla maupun yang dengan Bulla) bagi saudara-saudaranya, menunjukkan betapa orang kudus ini diberkati dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Allah. Pengalaman itu tidak abstrak tetapi konkrit. Dan, karena itu kita bisa belajar banyak dari situ. Beruntunglah para saudara-saudara Fransiskan yang banyak menggali misteri ini baik melalui sumber-sumber atau praktek-praktek yang menurut Anggaran Dasar dalam Persaudaraan Fransiskus.

Akan halnya dengan Bonaventura, ia mengantar dan membimbing kita melihat pengalaman-pengalaman Fransiskus itu agar kita juga bisa melakukan perjalanan menuju Allah dengan seluruh yang ada pada kita : indera, pikiran, perasaaan, hati, keinginan, dan tubuh. Dalam karyanya De Scientia Christi (Masalah-masalah Yang Diperdebatkan, Seputar Pengetahuan Kristus), Bonaventura memberikan pengajaran yang sungguh mencerahkan.

Proses pembelajarannya melalui proses debat antara dua sudut pandang yang bertentangan. Tapi, pada akhir perdebatan, masalahnya akan dipecahkan. Dan, apa yang didiskusikan adalah pengetahuan Kristus. Tujuan proses ini adalah seseorang mendapatkan pengetahuan yang diciptakan. Ini adalah pengetahuan yang kita dapatkan saat kita merefleksikan pengalaman kita secara rasional tentang dunia sekitar kita. Semuanya itu tentu dilandasi dengan iman dan tidak keluar dari iman. Filsafat dan Teologi, dengan demikian tidak dipisahkan seperti menggejala dalam era modern.

Kita diajak mengetahui realitas dunia sekitar kita, tetapi perlu diakui bahwa realitas itu memiliki dimensi yang transendental, yang suci, yang kudus sebab segala sesuatunya berasal dari Allah. Dengan begitu, kita mendapatkan suatu sikap penghargaan atas dunia berdasarkan pengalaman-pengalaman kita. Bagaimana ini bisa terjadi karena semua realitas ciptaan merupakan tanda petunjuk arah yang memberitahu kita ke mana kita harus pergi. Dari sinilah dapat dimengerti penghargaan Fransiskus yang mendalam terhadap semua makhluk dan alam yang disebutnya sebagai saudara dan saudarinya. Hubungannya bukan penundukan, penguasaan seperti ditunjukkan kecenderungan dewasa kini yang mengeruk dan mengeksploitasi segala sesuatunya.

Semua realitas ciptaan memang suatu tanda menuju Allah. Lantas, bagaimana kita mengenal tanda itu ? Kita mengenal tanda itu hanya dengan membacanya. Karena itu, tidak heran bila dalam semangat Bonaventura, kegiatan membaca dan studi itu mendapat penghargaan yang layak.

Membaca
Kita bisa memang mengenal tanda itu dengan membaca. Akan tetapi, tidak berhenti di situ, Bonaventura lantas mengajak kita belajar membaca tanda-tanda tersebut dengan tepat. Dunia - demikian Bonaventura - seperti sebuah buku. Jika buku itu dapat dibaca, ia akan mengarahkan pembacanya kepada Allah.

Terkadang buku itu tidak bisa dibaca karena kesombongan dan egoisme manusia itu membawa kegelapan ke dalam dunia. Karena itu, kita bisa membaca kalau diterangi Allah dengan mendengarkan pewahyuan diri Allah dengan penuh perhatian dan refleksi. Semua itu perlu dilakukan bukan karena alam atau dunia sekitar kita, tetapi dambaan akan Allah harus mendorong kita untuk menghargai lebih jauh segala hal yang telah diciptakan Allah dan tidak menyebabkan kita memisahkan diri dari ciptaan tersebut, tetapi justru terlibat di dalam dunia ciptaan karena kita adalah bagian darinya.

Lantas, perjalanan menuju Allah perlu diteruskan dalam proses yang menyentuh inti. Bagaimana manusia yang terbatas ini dapat memperoleh pengetahuan tentang Allah yang tidak terbatas ? Di sinilah lantas peran sapientia (kebijaksanaan) begitu penting. Kebijaksanaan ini merupakan suatu bentuk pengetahuan yang didapatkan tidak saja melalui intelegensi, tetapi juga cinta.

Kebijaksanan ini dibedakan : kebijaksanan yang diciptakan dan kebijaksanan yang tidak diciptakan. Ini bisa dicapai bila dunia (tidak sekedar dibaca saja) tetapi dihadapi dengan semangat kontemplasi penuh doa. Inilah kebijaksanan yang diciptakan. Dalam tahap ini, manusia menjadi manusia baru. Tahap berikutnya adalah ketika jiwa manusia menerima anugerah tertinggi dari Allah yaitu kehadiran ilahi. Inilah kebijaksanan yang tak diciptakan.

Buku karya Paul Rout berjudul Fransiskus dan Bonaventura ini sangat bermanfaat bagi orang kristen yang ingn mengembangkan kehidupan rohani mencapai kepenuhannya, seperti diamanatkan Injil suci. Pembahasannya ringkas, padat, dan mencerahkan. Ia menyemangati untuk mencapai kesempurnaan. Fransikus dan Bonaventura berusaha sungguh-sungguh dan bahkan melalui jalan pertobatan yang tidak dimengerti kebanyakan orang. Dan, pada akhirnya mereka memperoleh rahmat, diberkati, kehadiran ilahi. Bagaimana dengan kita....? Selamat membaca.
Daniel Setyo Wibowo