Selasa, 13 September 2016

Kejutan Besar




Data Buku

Judul      : Cahaya Ilahi dan Opera Manusia

Penulis    : Martinus Antonius Weselinus (MAW) Brouwer

Editor     : HCB Dharmawan

Penerbi t : Penerbit Buku Kompas

Tahun     : 2004

Tebal     : viii  +  184 halaman; 14 cm  x  21 cm

ISBN     : 979-709-063-9






 "...manusia sering merasa bosan di dunia (a quiet desperation), sedang dalam Tuhan kita tidak pernah akan merasa bosan: ‘He is the Big Surprise’, yang selalu mengherankan..." (MAW Brouwer, hal. 57)


"Kejutan..." Itulah kesan kuat membaca buku Cahaya Ilahi dan Opera Manusia karya M.A.W. Brouwer ini. Bukan hanya soal dimensi religiositas (meminjam istilah Mangunwijaya), tetapi juga soal-soal kehidupan sehari-hari menyangkut manusia dan alam sekitarnya, yang dengan mengesankan dipakai sebagai judul dan pembagian buku ini ke dalam dua bagian "Cahaya Ilahi" dan "Opera Manusia".

            Bagaimana faktor kejutan (surprise) ini bisa dijelaskan, mengingat buku ini sendiri diterbitkan pada tahun 2004; sementara tulisan-tulisannya sendiri jauh lebih lama, yakni ada yang tahun 1970, 1971, 1972, 1983, 1985, 1986, 1987, 1988, dan ada yang tanpa tahun. Itulah menariknya buku ini. Tampaknya, ini tidak berhubungan dengan aktualitas berbagai peristiwa yang tampak berubah-ubah. Akan tetapi, lebih dari pada hal-hal yang semacam itu. Ini menyangkut suatu cara pandang baru yang dalam buku ini disebut kepercayaan, harapan, dan kasih (fides, spes, charitas)
            Melalui cara pandang tersendiri yang dibagikan MAW Brouwer, buku ini menjadi menarik. Ia menyajikan kejutan-kejutan terhadap kenyataan di sekitarnya. Melalui pergulatannya dalam iman, ateisme, filsafat, fenomenologi, Ayatollah Khomeini, A H Nasution, anak-anak ibu pertiwi, dan sebagainya, semakin mengukuhkan keterpanaan yang ditawarkan sosok MAW Brouwer. Mengapa ? Karena semua itu didasari dengan kepercayaannya kepada Allah. "Kalau Allah muncul sebagai The Big Surprise (hal yang baru secara absolut), memang jelas, bahwa renungan dari dasar segala dasar menjadi 'adventure', yang memberi semangat dan harapan." (hal. 29).
            Dari sisi inilah, MAW Brouwer menampilkan berbagai kejutan itu. Maka, tidak heranlah kalau membaca buku ini kita kadang diajak tertawa, heran, bertanya-tanya, mencari tahu lebih banyak lagi, memastikan arah yang benar, bahkan diajak menaruh kepercayaan, harapan dan kasih, bersikap kritis, dan berpikir sendiri yang juga menjadi salah satu perkembangan ilmu pengetahuan.
            Jadi, semakin menjadi jelaslah kejutan di sini bukanlah berubah-ubahnya segala peristiwa di hadapan kita yang tampak baru. Bahkan, perubahan-perubahan itu tidak jarang menimbulkan kebosanan-kebosanan, ketidakpastian-ketidakpastian, dan mencari hal-hal yang tampak baru dan tampak pasti lagi hingga pada akhirnya pada kematian itu sendiri. Dan, ketakutan yang paling besar dihadapi manusia adalah kematian.
            Kejutan  justru tidak terletak pada hal-hal yang demikian itu, tetapi mengatasinya. "Manusia sering merasa bosan di dunia (a quiet desperation) sedang dalam Tuhan kita tidak pernah akan merasa bosan: "He is the Big Surprise", yang selalu mengherankan. (hal. 57)
            Buku karya almarhum pastor fransiskan ini terdiri dari 37 tulisan yang dibagi dalam dua bagian besar. Bagian pertama, adalah "Cahaya Ilahi" terdiri dari 17 artikel. Bagian ini dikemukakan berbagai kejutan yang berkaitan dengn hubungan manusia dengan Yang Ilahi. Di dalamnya terdapat tema-tema filsafat, ateisme, teologi, penilaian, dan sebagainya.
            Bagian kedua berjudul "Opera Manusia" terdiri dari 20 artikel. Ini berkaitan dengan diri manusia itu sendiri yang bisa diwakili misalnya Gamal Abdul Nasser, Honda, Polisi (Hoegeng), Alexandr Solzhenitsyn, Adam Malik, Socrates, A.H. Nasution, Lie Tek Tjeng, Einstein, Galina, Plato, Ayatollah Khomeini, Lord Nrth, Mikail Gorbachev, Oliver Cromwell, Sudjatmoko, Hamka, Nurcholis Madjid, Romo FX Danuwinata SJ, Bapak silaban, Leo Sukoto SJ, dan lain-lain. Sebenarnya, tidak terbatas pada tokoh seperti disebut di atas, tetapi juga misalnya disebut "masih muda, tetapi sudah pailit, nihilis, dan psimistis, tetapi...juga mereka itu anak-anak Ibu Pertiwi." (hal. 182)
            Membaca satu tulisan ke tulisan lain dalam buku ini, kita justru tidak dibawa untuk mengukuhkan suatu pendirian menurut kita sendiri sambil melakukan pembenaran-pembenaran, tetapi malah sebaliknya. Pendirian-pendirian kita justru dibongkar terhadap kemungkinan-kemungkinan lain.
            Tidak heran kalau kita dibawa pada kenyataan yang tidak pasti dan ketidakpastian-ketidakpastian lainnya, absurditas hidup. Dan, absurditas hidup yang paling besar adalah kematian itu sendiri. Dihadapi dengan sikap yang bagaimanapun (optimis maupun pesismis), ini tetap suatu yang absurd. Dan, karena itu, kepercayaan, harapan, dan kasih (fides, spes, et charitas) menjadi sangat penting justru dalam kondisi absurditas itu. Tujuan hidup justru tidak diletakkan di sini, melainkan di seberang kuburan, seperti pandangan Oliver Cromwell.
            Akan tetapi, ada juga kelompok yang tidak ambil pusing dengan itu semua. Golongan ini melibatkan dirinya dalam pekerjaan dan tidak perlu memikirkan soal-soal maut dan hidup sesudah mati. Yang lain lagi, ada juga golongan yang tidak menghargai dunia, tetapi merasa asing di dunia. Dengan narkotika atau 'suicidum' (bunuh diri) mereka mencoba melepaskan dirinya dari tali-tali eksistensi. (hal. 171)
            Suatu buku dan refleksi yang menarik...Selamat membaca dan mengambil manfaat.
Daniel Setyo Wibowo

Jumat, 26 Oktober 2012

Membaca dan Membaca Lagi


Data Buku

Judul               : Membaca, dan Membaca Lagi: [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980 - 1995
Judul Asli        : Reading Matters : An Examination of Plurality of MEaning in Indonesian Fiction 1980 - 1995
Penulis             : Dr. Pamela Allen
Penerjemah      : Dr. Bakdi Soemanto
Kata Pengantar: Prof. Dr. Benny H. Hoed
Penerbit           : Indonesia Tera
Tahun              : 2004
Tebal               : xxxii + 320 halaman
ISBN               : 979-9375-60-6

            Ketika kita membaca buku atau teks atau naskah baik fiksi maupun nonfiksi, apa yang mau kita cari ? Makna ! Boleh jadi, buku itu menghibur, membuat teka-teki, mengajak refleksi, memberi petuah, membelokkan untuk menyesatkan secara halus untuk sekedar mencari keuntungan, atau bahkan menebar teror kesadaran. Boleh jadi buku itu merupakan rangkaian cerita yang lurus dan logis sampai cerita absurd, berisi rumus-rumus dan penyelesaian soal, mode pakaian atau masakan, berisi teknik akuntansi, komputer, berpidato atau bagaimana menjadi kaya sesegera mungkin. Namun, hanya dengan mambaca sajalah, teks-teks itu memberikan maknanya. Lantas kita memahaminya dan menggunakannya. Bisa jadi, kita sebenarnya menangkap maknanya lantas kita menyembunyikan itu dan mengatakan hal lainnya atau makna lainnya untuk tujuan-tujuan tertentu.
            Permasalahannya, bagaimana membaca dengan 'baik dan benar' ? Istilah 'baik dan benar' di sini dipakai dengan kata-kata yang lazim digunakan seperti berbahasa yang 'baik dan benar'. Bagaimana kita dapat memahami makna dengan tepat ? Jawabnnya mungkin sederhana. Teks itu sendiri akan menampilkan maknanya secara eksplisit. Bisa jadi. Tapi, banyak teks yang menyembunyikan maknanya dalam sesuatu yang 'tak kelihatan' langsung, entah lewat strukturnya, permainan kata, tata bahasa, dan sebagainya. Bagaimana memahami semua itu ?
            Membaca sekali atau dua kali, kita mungkin menangkap jalan ceritanya atau garis besarnya. Membaca sekali lagi dan lagi, mungkin terasa makna lebih dalam. Mencari latar belakang penulis dan latar belakang sosial, politik, atau budaya yang terjadi saat teks itu ditulis dari buku-buku atau informasi-informasi lain, mungkin akan memperdalam lagi makna itu. Mungkin orang lain akan menangkap makna yang berbeda dari teks yang sama. Orang lainpun mungkin akan berbeda pula. Atau jangan-jangan kita salah baca. Bagaimana dengan maksud pengarang ?
            Buku karya Dr. Pamela Allen berjudul Membaca, dan Membaca Lagi: [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995 ini sangat membantu menjawab masalah-masalah di atas. Buku yang berjudul  aslinya Reading Matters : An Examination of Plurality of Meaning in Indonesian Fiction 1980 – 1995, sangat jernih memaparkan hasil ‘membaca, membaca, dan membaca lagi’ penulisnya atas karya-karya tiga sastrawan berpengaruh di Indonesia antara tahun 1980 – 1995. Sastrawan itu adalah Pramoedya Ananta Toer, Y.B. Mangunwijaya, dan Putu Wijaya.
            Karya-karya yang dicermati dari Pramoedya adalah Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), dan  Rumah Kaca (1988). Pamela menyebutnya sebagai “Kuartet Buru”. Sementara karya Y.B. Mangunwijaya adalah Burung-Burung Manyar (1981), Durga Umayi (1991), dan Burung-Burung Rantau (1993). Sedangkan novel-novel Putu Wijaya antara lain Sobat (1981), Perang (190), Teror (1991), Kroco (1995), dan Byarpet (1995).
            Pendekatan yang dipakai sangat menarik, yaitu pendekatan tanggapan-pembaca atau teori resepsi pembaca. Pendekatan ini menekankan bahwa makna suatu karya sastra tertentu merupakan hasil interaksi antar pembaca dengan teks. Lalu konsekuensinya makna menjadi tidak tunggal. Ia plural.
            Pendekatan itu sendiri diambil dari tiga tokoh seperti Antony Easthope dalam bukunya berjudul Literary into Cultural Studies (1991), Catherine Belsey dalam bukunya Critical Practice (1990), dan Umberto Eco dengan bukunya The Limits of Interpretation (1990).
            Pendekatan yang dipakai Pamela sebenarnya upaya sintesis dari dua kecenderungan, yakni di satu sisi makna itu sudah tidak tergantung pada pengarang, tetapi sepenuhnya mutlak tergantung pembaca begitu teks lepas dari pengarang dan dibaca pembaca. Pengarang itu sudah mati. Salah satu pendekatan ini diwakili, misalnya oleh Roland Barthes. Di pihak lain, kecenderungan lebih kearah konvensional yang menekankan unsur obyektivitas yang diartikan makna itu sangat tergantung pada pengarang. Bagaimanapun juga teks itu dihasilkan oleh pengarang sehingga teks tidak bisa dilepaskan dari maksud pengarang. Maknanya lalu menjadi tunggal sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah. Pendekatan ini didukung oleh antara lain E.D. Hirsch Jr.
            Dengan pemaparan berbagai pendekatan dan mengambil suatu sintesis, buku Pamella yang dikembangkan dari tesis doktoralnya ini, merupakan pendekatan ilmiah. Ini juga bisa disebut sebagai kritik sastra atau analisis sastra. Di sinilah kekuatan buku ini. Ia kritis terhadap karya tiga sastrawan berpengaruh di Indonesia dari tahun 1980 hingga 1995. Ia bukan pembaca biasa, seperti dikatakan Prof. Dr. Beny H. Hoed, dalam kata pengantarnya. “Ia (seorang kritikus sastra, pen.) harus menempatkan dirinya lebih dari seorang awam yang membaca karya sastra. Ia harus memberikan pencerahan kepada peminat sastra agar seluruh karya dapat dipahami makna secara lebih komprehensif,” tegasnya.

Hasil

Dari pendekatan di atas dan karena tidak bisanya Dr. Pamela Allen menyingkirkan pengarang (karena kenal secara pribadi), maka dihasilkan suatu tipologi sastra di Indonesia antara periode sebelumnya yang sudah dikenal baik. Misalnya pada awal 1980-an perdebatan ‘sastra kontekstual’ menghidupkan kembali suatu perdebatan yang sudah dikenal baik dan seakan berputar. Pramoedya Ananta Toer, Y.B. Mangunwijaya, dan Putu Wijaya mewakili tiga corak sastra di Indonesia yang ditandai antara kutub-kutub realis – antirealis, serta nasionalis – neoregionalis.
            Karya-karya Pramoedya bercorak realis dan nasionalis. Sementara Mangunwijaya mencerminkan keindonesiaan yang diramu dari beberapa eksperimentasi, fantasi, dan tradisi wayang. Sedangkan karya-karya Putu Wijaya merupakan antitesa dari tulisan Pramoedya : fantastik dan bersifat tidak langsung, dan meraciknya dengan tradisi Bali, Jawa, dan Jakarta (hal. 251 – 252).

Membuka Tabir
            Apa yang mengejutkan dari buku ini adalah dari mana suatu ‘ide’ tulisan tiga sastrawan itu terilhami, apa makna-makna simbolisme (misalnya plesetan, permainan kata, dan sebagainya), apa maksud pengarang, dan latar belakang sosio-politik serta hal-hal tentang kepengarangan, terungkap. Buku yang diterjemahkan dengan apik oleh Dr. Bakdi Soemanto ini, bagaikan membuka tabir.
            Misalkan saja, karya Burung-Burung Manyar dihubungkannya dengan keluarga Jenderal (Purn.) Wiranto, isterinya Yuniarti, dan anak-anaknya. Atau Durga Umayi yang diilhami dari Autumn of the Patriarch-nya Gabriel Garcia Marquez.
            Tidak mengherankan, jika karya Pamela ini memang betul-betul ditulis dengan teliti dan rinci. Selain uraiannya yang menyibakkan hal-hal yang ‘tersembunyi’ dari teks utama, studi yang tekun dan cermat bisa terlihat juga dari daftar pustakanya.

Suatu Pertanyaan
            Kecenderungan terhadap perhatian yang lebih pada pengarang, biasanya dibayar dengan sedikit ‘melupakan’ lingkungan sekitarnya. Misalkan, ketika kita membaca Durga Umayi.  Apalagi tokoh utamanya Punyo Iin Sulinda Pertiwi Nusamusbida atau dipanggil dengan Iin. Ini mengingatkan pada sosok sekretaris Bung Karno yang berasal dari Pulau Tello seperti diceritakan Bung Karno sendiri kepada Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Apalagi menyangkut permainan kata pada kisah akhir (hal. 19). Padahal, buku biografi  Soekarno ini tentu sudah banyak dikenal banyak orang. Apa hubungan ini dengan Durga Umayi, tidak diketahui. Masalahnya berbeda jika maksud pengarang secara eksplisit ditujukan untuk kritik terhadap sosok Bung Karno misalnya atau lebih besar lagi terhadap proklamasi.
            Kalau contoh di atas diteruskan, maka pendekatannya kembali lagi ke soal makna itu tunggal atau plural, ditentukan pengarang atau pembaca. Buku ini memang memberi masukan yang sangat berarti, tetapi meninggalkan sejumlah pertanyan yang belum terjawab.

Pemahamn Diri
            Pendekatan ilmiah dan permasalahan makna ini justru menjadi titik kritis Pamela Allen. Apalagi seperti diakuinya sebagai pembaca non-Indonesia, berusaha mendekati sastra Indonesia seperti Pramoedya, Mangunwijaya, dan Putu Wijaya. Di sinilah masalah dua budaya yang saling berinteraksi. Menarik…
            Lalu, apa yang muncul dari pendekatan seperti ini,adalah kemungkinan besar masalah bias berhadapan dengan etnosentrisme. Prof. Beny H. Hoed sudah mengingatkan hal itu dalam kata pengantarnya.
            Bagaimana menghadapinya, Beny langsung menusuk jantung masalahnya, yaitu: memahami diri, mengenali diri sendiri dalam kaitan dengan teks. Inilah inti interpretasi, seperti diketengahkan Paul Ricoeur.
            Terjemahan buku ini sangat bagus, meskipun beberapa yang perlu mendapat kritik dengan istilah ‘silang budaya’ (Beny lebih suka memakai istilah ‘antarbudaya’). Pada umumnya, terjemahan buku ini dalam bahasa Indonesia patut mendapat apresiasi yang tinggi. Kualitas terjemahannya bagus. Artinya, maknanya tersampaikan, walaupun (dan tidak perlu) kata per kata, termasuk judulnya.
            Buku ini bisa dibaca oleh mahasiswa, dosen sastra, atau siapa saja yang berminat pada sastra dan kritik sastra. Semoga bermanfaat...

DSW

Percakapan Erasmus


Data Buku :

Judul   : Percakapan Erasmus
Penulis             : Desiderius Erasmus
Penerjemah      : H. B. Jassin
Pendahuluan   : J. Trapman
Penerbit           : Djambatan
Tahun :1985
Tebal    : xviii + 246 halaman


Anton   : Tidak adakah yang ingat kepada Santo Kristoffel ?
Adolf    : Ada. Aku mendengar seseorang (dan aku tidak bisa menahan tawaku) yang berjanji
             dengan suara nyaring supaya kedengaran Santo Kristoffel yang berada di Katedral di       Paris, yaitu patung sebesar gunung. Bahwa ia akan memberinya lilin yang sama besarnya        dengan patung itu. Seorang yang berdiri di sampingnya, seorang kenalan baik yang    mendengarnya berteriak-teriak, menyenggolnya dari samping dan berkata            memperingatkan, "Diam, tolol..!" bisik orang yang bernazar itu (sebab tentu saja Santo     Kristoffel tidak boleh mendengar apa yang dikatakannya ini). "Kau kira aku akan menepati   apa yang aku janjikan ? Sekali tiba di darat aku akan memberinya lilin biasa saja," katanya.

            Buku Percakapan Erasmus ini buku jadul (jaman dulu) bukan saja terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia era 80-an. Sementara buku aslinya tahun 1518. Jadi, memang sangat jadul. Tapi, apakah relevan bila dibaca saat kini yang hingar bingar dan deras arus informasi ini tanpa jatuh pada semangat romantisisme belaka seperti ditunjukkan era Romantik di Barat. Di situlah menariknya buku ini, yang masih tetap memberi warna kemanusiaan apalagi untuk pendidikan. Ia tidak cepat lapuk di makan usia jaman.
            Kutiban dialog di atas sebagai salah satu contohnya.  Dipetik dari Bab 'Kapal Karam'. Dalam  bab itu dikisahkan - dalam bentuk dialog antara Anton dan Adolf - bagaimana sikap orang-orang ketika mendapati kapal yang ditumpanginya akan hancur berantakan diterpa ombak besar. Hal ini terjadi seperti digambarkan film Titanic atau di kehidupan sehari-hari dengan kondisi transportasi seperti tenggelamnya kapal-kapal barang bekas yang disulap menjadi kapal penumpang dan sebagainya.
            Penumpangnya akan dilemparkan ke puncak setinggi langit dan dihempaskan ke dasar oleh badai dahsyat. Digambarkan pula di dalamnya bagaimana mereka dipaksa harus merelakan barang-barang berharganya dilempar ke laut untuk mengurangi beban kapal dan menyelamatkan nyawa.
            Hal itu belum seberapa. Yang lebih dahsyat adalah setelah semuanya habis, termasuk tiang dan layar roboh dan ditelan lautan. Seluruh badan kapal retak dan dapat dipastikan tenggelam dalam beberapa detik kemudian. Berbagai macam peristiwa dan tingkah laku dikisahkan dalam kondisi demikian. Kadang konyol, lucu, atau bahkan menggelitik. Mungkin ini tidak perlu ditertawakan karena memang suatu tragedi. Dan, pada akhirnya memang harapan yang besar terletak pada pertolongan Tuhan. Namun, sikap keagamaan itu berbagai macam bentuk dan perwujudannya ketika situasi kritis terjadi. Dan, siapa yang akan sampai duluan di pantai ? Atau siapa yang tenggelam ? Menarik...

Kritik Keras
            Bab 'Kapal Karam' itu hanyalah satu bab dari 12 bab buku karya Erasmus ini. Buku ini diterjemahkan almarhum HB Jassin dari terjemahan NJ. Singels Een Twaalftal Samenspraken, dan Een Tweede Twaalftal Samenspraken’dan juga terjemahan C. Sobry berjudul Een Derde Twaalftal Samenspraken.
            Buku ini awalnya diterbitkan tahun 1518 dengan judul Colluquia (Percakapan) berbahasa Latin. Buku ini menuai kritik keras bukan hanya dari Gereja Katolik, tetapi juga dari pihak tokoh reformis Gereja seperti Martin Luther.
            Mengapa buku ini begitu menuai kritik keras dari kalangan  Gereja ? Lepas bagaimana Gereja menyikapinya, buku ini memang bisa membuat telinga tokoh-tokoh Gereja merah dan lantas marah. Bagaimana kebiasaan-kebiasaan para biarawan seperti Fransiskan, Karmelit, Dominikan, dan Agustinian dibeberkan. Termasuk di dalamnya bagaimana motivasi seseorang masuk suatu biara untuk menjadi biarawan dalam bab ‘percakapan orang tua-tua”
            Lebih dari pada itu, perang ketiga raja, yaitu Karel V, Kaisar Roma yang suci, Francis I (raja Perancis) dan Henry V, Kaisar Roma yang suci, Fransiskan I (Raja Prancis) dan Henry VIII (raja Inggris) seakan-akan itu semua karena perintah Tuhan. Para Raja itu berperang karena dihasut oleh pastor atau pendeta atau biarawan yang dengan penuh tipu daya dan mengejar keuntungan semata dan karena itu mereka di mana-mana, mencoba menimbulkan pertikaian dan peperangan. Itu semua dikisahkan dalam dialog antara Karon dan Alastator dalam bab ‘Karon, Tukang Tambang ke Dunia Roh.’
            Dalam berperang itu, seperti diuraikan J Trapman dalam pendahuluan, tiap pihak yang berperang mengira Tuhan berada di pihaknya. Hal inilah yang justru ditentang Erasmus. “Baginya, Tuhan adalah Tuhan persatuan dan perdamaian; Agama, Tuhan adalah Tuhan Persatuan dan perdamaian; Agama tidak bisa sejalan dengan perpecahan dan dendam kesumat dan pastilah tidak dengan peperangan.” Tegas Trapman. Erasmus bersungguh-sungguh dengan pikiran-pikirannya yang membela kebenaran. Tapi khas menjadi cirinya pula bahwa ia dapat menuangkannya dalam bentuk yang ringan.
            Selain kehidupan para imam dan biarwan yang menjadi kritik Erasmus, ia memperhatikan juga perilaku rumah tangga atau khususnya kehidupan suami isteri. Dalam bab “Perkawinan Yang Tidak Bahagia” Erasmus sangat peka menggambarkan bagaimana ia menasehati perempuan-perempuan agar perkawinan menjadi bahagia lewat dialog Eulali dan Xantippe.
            Dalam hal kerja, Erasmus juga sangat menawan melukiskan bagaimana bertingkahlaku dalam berdagang dalam bab “Pedagang Kuda”, atau juga dalam bab ‘Kaya tapi Kikir’.

Lucu
            Tulisan-tulisan Erasmus bisa dikatakan ringan, lucu, menarik, bersemangat, tetapi juga mengena, tepat sasaran. Dan itulah yang mungkin menjadi bobot tulisan Erasmus.
            Beberapa terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia ini, khususnya, menyangkut ajaran atau tradisi Gereja  atau biara , memang kurang pas, seperti Dara Maria, Korinte, Tuhan Bapa, Bintang segara, Penguasa Bumi – memang terlihat aneh atau kurang tepat. Terkadang juga membingungkan. Ini bisa dipahami, karena penerjemah belum masuk dalam komunitas suatu biara Gereja Katolik.
            Lepas dari kekurangan penerjemahannya tersebut, buku ini memberi sumbangan yang berarti dan masih tetap aktual meskipun latar belakang munculnya buku ini tahun 1518. Di kota Leuven, Belgia. Meskipun bahasa Latin banyak tidak diajarkan (kecuali di Seminari-seminari), tetapi buku ini sangat bagus untuk pendidikan karena buku ini mempertautkan antara kesantunan berbahasa dengan kesantunan perilaku. Kesantunan perilaku dalam buku ini memang dimaksudkan sebagai kesantunan Kristen yang juga diakui sebagai nilai-nilai universal.
            Kesantunan bahasa tidak diperoleh dari belajar tata bahasa dari buku-buku pelajaran sekolah yang kadang tidak menyenangkan, kaku, membosankan, atau menakutkan (karena muatan dari berbagai instansi seperti kurikulum atau tuntutan masyarakat), tetapi diperoleh dari buku-buku yang ‘berguna dan menyenangkan’ sebagaimana istilah Trapman dalam pengantarnya.
            Jadi…, ya  'Ridendo dicere verum'. Sambil tertawa riang menyatakan kebenaran. Selamat membaca.

DSW